Rabu, 13 Juni 2012

Semua Tentang Syahadat

Kalimat Syahadat

Tak asing bagi kita akan kalimat syahadat "laa ilaha illah" ini. Karena kita senantiasa membacanya dalam sholat, tepatnya ketika tasyahud. "Laa ilaha illah" merupakan salah satu dari rangkaian dua kalimat syahadat yaitu "syahaadatu an laa ilaha illallah" dan "syahaadatu anna muhammadar rasulullah" yang apabila seseorang mengikrarkannya, maka seseorang yang kafir menjadi muslim. Syahadat ini disebut Syahadat Tauhid, karena mengandung pentauhidan Allah Jalla wa ‘Ala dalam ibadah.


Karena pentingnya syahadat ini, sehingga ia menjadi bagian terpenting dari rukun islam, yaitu rukun islam yang pertama. Hal ini berdasarkan hadits:
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya: ”Islam dibangun atas lima perkara; (1) Syahadat laa ilaha illallah dan Muhammadur rasulullah, (2) Mendirikan sholat, (3) Menunaikan Zakat, (4) Berhaji ke Baitullah, dan (5) Puasa di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh sebab itu, sudah selayaknya bagi seorang muslim untuk memahami kandungan makna, rukun, syarat dan konsekuensi (tuntutan) syahadat ini.



makna syahadat, makna kalimat syahadat


Makna Kalimat Syahadat

Makna kalimat syahadat adalah "meyakini dan mengikrarkan" bahwa tiada sesuatupun yang berhak diibadahi kecuali Allah Ta’ala dengan tetap teguh di dalamnya dan melaksanakan tuntutannya.

Sedangkan makna Laa ilaha illallah adalah Laa ma’buda bi haqqin illallah yaitu Tiada sesembahan yang haq (berhak disembah) melainkan Allah.

Berikut ini akan disebutkan makna-makna yang kurang tepat ketika menafsirkan Laa ilaha illallah :
  1. Laa ilaha illallah ditafsirkan dengan Laa ma’buda illallah, maknanya Tiada sesembahan selain Allah. Ini makna yang berkonsekuensi batil, karena mengandung makna, bahwa setiap sesembahan, baik yang haq maupun yang batil adalah Allah. 
  2. Laa ilaha illallah ditafsirkan dengan Laa kholiqo illallah, yang bermakna Tiada pencipta selain Allah. Ini makna yang kurang pas, karena hanya mengandung sebagian dari kandungan makna Laa ilaha illallah yaitu tauhid rububiyah sementara kandungan makna kalimat Laa ilaha illallah ini adalah tauhid ibadah yang mencakup tauhid rububiyah. Andaikan benar makna Laa ilaha illallah ditafsirkan dengan Laa kholiqo illallah (Tiada pencipta selain Allah), maka tentulah Iblis laknatullah ‘alaihi dan orang-orang kafir di masa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam termasuk muslim, karena mereka mengakui bahwa Allah Sang Pencipta, Penguasa, Pemilik dan Pemelihara alam jagad raya. Allah ta’ala mengabadikan perkataan Iblis dalam Al-Quran yang artinya :
    “....(Iblis) menjawab,”Aku lebih baik daripada dia(Adam). Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf : 12)
Dan Allah Ta’ala menyatakan keyakinan orang kafir di masa Nabi kita dengan firman-Nya  yang artinya:  
“Katakanlah (Muhammad kepada orang kafir), milik siapakah bumi, dan apa yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui? (84)
Mereka akan menjawab, ”Milik Allah.” Katakanlah, ”Maka apakah kamu tidak ingat? (85)
Katakanlah, ”Siapakah Tuhan (Pencipta dan Pemelihara) langit yang tujuh dan yang memiliki 'Arsy yang agung?” (86)
Pasti mereka menjawab, ”Allah”. Katakanlah (kepada mereka): mengapa kamu tidak bertaqwa?” (QS. Al-Mu’minun : 84-87)
Demikian pula, andaikata tafsir tersebut benar, tentulah orang-orang kafir Quraisy dan sesama mereka akan menerima dakwah Nabi Shallallahu ‘alahi wa sallam. Namun nyatanya tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam menyeru mereka Ucapkanlah Laa ilaha illallah, niscaya kalian akan beruntung (di dunia dan akhirat)” (HR.Ahmad dan lainnya), mereka pun lantas membantah dengan ucapan mereka yang diabadikan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: 
“Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu sesembahan (Allah) saja? Sungguh ini sesuatu yang aneh.” (QS. Shad : 5)
Laa ilaha illallah ditafsirkan dengan Laa hakima illallah yaitu Tiada hakim (Pembuat hukum) kecuali Allah. Makna ini pun kurang tepat dan tidak sempurna, karena masih saja mengandung sebagian dari kandungan makna Laa ilaha illallah yaitu tauhid rububiyah. Jelasnya, jika seseorang mentauhidkan Allah dalam hukum, namun bersamaan dengan itu dia beribadah kepada selain Allah, maka tetap saja dia belum merealisasikan tuntutan kalimat tauhid ini.


Makna yang benar dari tafsir Laa ilaha illallah adalah Laa ma’buda bi haqqin illallah yaitu Tiada sesembahan yang haq (berhak disembah) melainkan Allah. Hal ini berdasarkan Al-Quran surah Shad ayat 5 dan hadits riwayat Ahmad di atas, di mana orang-orang kafir di masa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam mengingkari dakwah beliau untuk mentauhidkan Allah (menjadikan Allah satu-satunya Dzat yang disembah) dengan ucapan mereka; “Apakah dia menjadikan sesembahan-sesembahan itu hanya satu sesembahan (Allah) saja? Sungguh ini sesuatu yang aneh.”




laa illaha illallahu, rukun syahadat

Rukun Syahadat Laa ilaha illallah

Laa ilaha illallah memiliki 2 rukun yaitu An-Nafyu (penafian/peniadaan) dan Al-Itsbat (penetapan). Kedua rukun ini diambil dari 2 penggalan kalimat tauhid Laa ilaha dan illallah. Rinciannya  sebagai berikut :

Laa ilaha = An-Nafyu,  yaitu meniadakan dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan serta mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah Ta’ala.
illallah = Al-Itsbat, yaitu menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah dan diibadahi melainkan Allah serta beramal dengan landasan ini.
Banyak ayat-ayat Al-Quran yang mencerminkan 2 rukun ini. Diantaranya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya :  
“...Maka barangsiapa yang mengingkari Thoghut (sesembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat (kalimat Laa ilaha illallah) yang tidak akan putus...” (QS.Al-Baqarah : 256)
“Mengingkari Thoghut (sesembahan selain Allah) adalah cerminan dari rukun An-Nafyu (Laa ilaha), sementara “Beriman kepada Allah” adalah cerminan dari rukun Al-Itsbat (illallah).
"Dan (ingatlah) ketika ibrahim berkata pada ayah dan kaumnya, "sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah" (QS. Az-Zukhruf : 26)





Syarat Syahadat Laa ilaha illallah

Syarat-syarat ini harus dipenuhi oleh orang yang melafalkan kalimat tauhid ini agar bermanfaat baginya, yaitu sebagai berikut :
  1. Berilmu dan memahami kandungan makna dan rukun syahadat ini sehingga hilang kebodohan terhadap kandungan makna dan rukun kalimat ini. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya :
    “Barangsiapa yang mati dalam keadaan ia mengetahui (kandungan makna) ‘laa ilaha illallah’ (bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah), pasti masuk surga (HR. Muslim)
  2. Meyakini segala yang ditunjukkan oleh kalimat syahadat tanpa ada keraguan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : 
    ”Sesungguhnya orang mukmin itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu...”. (QS. Al-Hujurat : 15)
  3. Menerima konsekuensi (tuntutan) kalimat ini berupa beribadah hanya kepada Allah semata dan meninggalkan beribadah kepada selain-Nya tanpa adanya penolakan yang didasari keengganan, pembangkangan, dan kesombongan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : 
    ”Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) apabila diucapkan kepada mereka “laa ilaha illallah" (Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah) maka merekapun menyombongkan diri (35) 
    Dan mereka berkata,“Apakah kita akan meninggalkan sesembahan-sesembahan kita karena penyair yang gila?” (QS. Ash-Shaffat : 35-36)
  4. Tunduk dan berserah diri terhadap segala tuntutan kalimat syahadat tanpa mengabaikannya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : 
    ”Dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah dalam keadaan berbuat kebajikan, maka sungguh dia telah berpegang dengan tali yang sangat kuat (kalimat Laa ilaha illallah).” (QS. Luqman : 22) 
  5. Jujur dalam mengucapkan kalimat ini dengan disertai hati yang membenarkannya. Jika seseorang mengucapkan kalimat ini namun hatinya mengingkari dan mendustainya, maka dia orang munafik tulen. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
    ”Dan diantara manusia ada yang mengucapkan,”Kami beriman kepada Allah dan hari akhir”, padahal mereka tidak beriman (8)
    Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri sementara mereka tidak meyadari (9) 
    Dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit mereka. Dan mereka mendapat azab yang pedih karena kedustaan yang mereka lakukan (10) (QS. Al-Baqarah : 8-10)
  6. Ikhlas dalam mengucapkannya dan memurnikan amal dari segala kotoran syirik, bukan karena riya, atau untuk ketenaran, maupun tujuan-tujuan duniawi. Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda yang artinya : 
    “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka bagi orang yang mengucapkan ”laa ilaha illallah” dengan tujuan mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
  7. Mencintai kalimat ini dan segala tuntutannya serta mencintai orang yang melaksanakan tuntutannya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya : 
    ”Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah...” (QS. Al-Baqarah : 165).
    Orang – orang yang benar dalam imannya mencintai Allah dengan cinta yang tulus dan murni. Adapun para pelaku kesyirikan memiliki cinta ganda. Mereka mencintai Allah sekaligus mencintai tandingan-Nya.





Konsekuensi  Syahadat Laa ilaha illallah

Konsekuensi syahadat ini adalah meninggalkan peribadatan dan penyembahan kepada selain Allah Ta’ala.

Dewasa ini, banyak orang yang megucapkan kalimat ini namun menyalahi tuntutannya. Mereka menujukan ibadah (beribadah) atau memberikan persembahan kepada makhluk, seperti menyembelih dan bernadzar untuk kuburan dan penghuninya, meletakkan sesajian sebagai tumbal di tempat-tempat keramat dan angker, di sekitar pepohonan, dan bebatuan, serta bentuk-bentuk persembahan lainnya. 

Mereka menyakini tauhid sebagai hal yang baru dan mereka juga mencela orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata. Mereka juga mengingkari serta memusuhi orang-orang yang mendakwahi mereka, padahal ajakan dan dakwah yang dilakukan orang-orang tersebut adalah sebagai wujud kecintaan, perhatian dan kepedulian serta keprihatinan mereka terhadap saudara seagama mereka. 

Mereka tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa saudaranya disebabkan ketidaktahuan saudaranya tersebut terhadap sesuatu yang berbahaya bagi mereka. Untuk itu, dengan didasari kecintaan mereka bangkit mengingatkan saudara-saudara seagama mereka dari bahaya-bahaya yang bisa menimpa. 

Sikap mereka ini merupakan bentuk implementasi dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam yang maknanya : 
Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan akhirnya, semoga Allah ta’ala menjadikan kita umat yang bersatu dan bersaudara di atas agama tauhid ini.


Penulis: Abdullah (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)
Sumber





Syahadat sebagai Pintu Masuk ke dalam Islam 

Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadat. Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadat. Syahadat membedakan manusia kepada muslim dan kafir. Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadat Rububiyah di alam arwah, tetapi ini saja belum cukup. Untuk menjadi muslim, mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, “Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dikembalikan kepada orang-orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, hati-hatilah kamu terhadap kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut ini pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang misi Laa ilaha illallah dan kewajiban manusia untuk menerimanya.

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terperiharalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya, sedangkan hisab mereka kepada Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadat. Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadat.
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (yang patut disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad : 19)
Kalimat “dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan” menunjukan bahwa ketidakkonsistenan sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (Laa ilaaha illallah), dan hal itu adalah perbuatan dosa. Karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya kepada Allah semata. Maka, bila seseorang muslim tidak menunaikan shalat, tidak menutup aurat, dan atau terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan Laa ilaaha illallah. Karena dengan sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah, tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.
Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illallah dan tidak mau mengesakan Allah.

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.” (QS. As-Shaffat : 35)

Yang dimaksud menyombongkan diri ketika diperdengarkan kalimat ”Laa ilaaha illallah” tidak semata-mata karena tidak mau mengucapkan atau mendengarkannya, tetapi yang yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti tidak mau mengerjakan shalat, tidak menutup aurat, tidak menjauhi pergaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya, dan sebagainya.

Yang dapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu, yaitu para nabi dan orang yang beriman kepada mereka.

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18)

Manusia bersyahadat di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadat sesuai ajaran Islam.




Syahadat adalah Kalimat dengan Ganjaran Yang Besar

Banyak ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antaranya seseorang akan dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan dari neraka seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :

Ubadah bin Shamit meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa mengatakan tiada ilah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya dan Rasul-Nya, bahwa Isa adalah hamba dan utusan-Nya, kalimat-Nya yang dicampakkan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan bahwa surga adalah hak serta neraka itu hak. Allah akan memasukkannya ke surga, apapun amal perbuatannya.” (HR. Bukhari)

Dari Anas, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah dan di hatinya ada seberat rambut kebaikan. Keluar dari neraka orang yang mengucapkan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat gandum kebaikan. Dan keluar dari neraka orang yang mengatakan la ilaha illallah sedang di hatinya ada seberat zarrah kebaikan.” (HR. Bukhari)

Orang yang mengikrarkan syahadat akan mendapatkan syafaat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di hari Kiamat. Seperti sabda beliau :

Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu di hari Kiamat?” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah mengira, ya Abu Hurairah, bahwa tidak ada seorang pun yang tanya tentang hadits ini yang lebih dahulu daripada kamu, karena aku melihatmu sangat antusias terhadap hadits. Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari Kiamat adalah yang mengatakan la ilaha illallah secara ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari)

Sumber

0 komentar:

Posting Komentar

Pembaca yang baik adalah yang memberikan komentar walaupun hanya sedikit saja, semoga Allah menjadikan engkau orang-orang yang beruntung. Amiin :)